Senin, 05 Desember 2011

Ibu ... Dimanakah Engkau Berada...




Sesosok gadis muda duduk termangu pada sebuah anak tangga apartement Mina. Apartemen yang sebenarnya lebih mirip losmen kelas melati. Bangunan itu sangat sederhana jika dibandingkan dengan kemegahan bangunan di Mekkah atau Madinah. Sesekali matanya nanar mencari sesuatu diantara kerumunan jama’ah haji yang sedang bersiap-siap untuk melontar jumroh. Merasa tidak puas, ia segera beranjak naik menuju lantai tiga. Sesekali ia menyeka keringatnya yang mulai bercucuran. Tak dihiraukannya lalu lalang orang di sekitarnya.
“Permisi, apa yang sedang kamu cari,” sapa seorang lelaki setengah baya kepadanya. “sudah empat kali saya bolak balik melewati tangga ini, tapi kamu tetap ada disini.”
“Eh ... anu ... saya sedang mencari ibu saya,” jawab gadis itu tergagap karena kaget.

“Memangnya ibumu kemana?”
“Saya tidak tau pak. Sejak awal kami memang sudah tidak bersama. Kami berangkat dengan kloter yang berbeda. Saya dan ayah saya berangkat dengan fasilitas ONH plus, sedangkan ibu saya menggunakan ONH biasa. Saya berharap disini kami dapat bertemu ibu,” katanya mencoba menjelaskan. Dadanya terasa sesak karena rasa khawatir dan rindu akan wajah sang ibu.
“Kenapa bisa berbeda?” tanya lelaki itu penuh selidik.
“Mulanya ayah mendaftar dengan menggunakan fasilitas ONH plus atas namanya dan ibu. Tapi, mendadak ibu bilang nggak mau pergi haji. Akhirnya sayalah yang menggatikan posisi ibu. Menjelang keberangkatan kami, tiba-tiba ibu menyatakan kesediaannya untuk menunaikan ibadah haji. Dan karena fasilitas ONH plus sudah habis, maka ibu berangkat dengan ONH biasa.”
“hmm... begitu ya. Begini nak, saya juga seorang petugas haji dari Biro Tiga Utama. Saya akan bantu mencari sampai ibumu ketemu. Nanti sore, kamu bisa datang ke ruangan saya di lantai 4. Saya tunggu kamu disana. Bagaimana?”
“Waah, terima kasih pak. Nanti sore pas ba’da zuhur saya akan ke ruangan bapak. Sekali lagi terima kasih,” kata gadis itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Senang bukan alang kepalang memenuhi seluruh relung hatinya. Ibu, aku pasti akan menemukanmu. Tunggu ya bu. Aku akan menjemputmu. Tak sabar rasanya menunggu sore hari tiba. Hatinyapun berbisik dengan penuh pengharapan. Ya Rabb, mudahkanlah jalanku untuk menemukan ibuku. Amiin
---@@---
Tepat pukul 4 waktu Mina, iapun tiba pada apartement yang dimaksud. Begitu tau ia sedang mencari bapak petugas haji Biro Tiga Utama, sontak saja para jamaah haji berceloteh nakal menggodanya.
“Pak, ada gadis cantik nih sedang cari bapak,” teriak salah seorang dari mereka. Tanpa menghiraukan godaan para jama’ah haji, ia dan bapak tua itu segera saja menuju pusat informasi khusus Indonesia. Namun sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Karena baru saja rombongan yang dimaksud pergi meninggalkan tanah Mina menuju Mekkah. Sedih bercampur kecewa tidak dapat disembunyikannya. Alih-alih bertemu ibu, kini ia malah kehilangan jejaknya.
“Jangan sedih, saya kan sudah janji akan membantu menemukan ibumu sampai ketemu.”
Ditatapnya lelaki tua itu dengan penuh selidik. Siapakah sebenarnya bapak ini? Kenapa ia membantuku? Dia tidak seperti orang jahat. Manusia atau malaikat kah dia? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya.
“Maaf pak, kalau boleh saya bertanya. Kenapa bapak mau bersusah payah membantu saya?” tanyanya penasaran.
“Nak, kamu jangan curiga dulu. Kamu itu lho, seperti anakku yang sekarang sedang kuliah di Malang. Saya hanya membayangkan anak saya yang berada diposisi kamu. Saya akan merasa sangat bersalah jika tidak membantumu. Sekarang sudah sore, besok pagi, kita sama-sama berangkat ke Mekkah. Insya Allah kita bisa bertemu dengan ibumu,” jelasnya dengan senyum memenuhi wajahnya yang mulai dipenuhi keriput tipis.
“Terima kasih pak,” katanya lega. Tuhan, terima kasih Engkau telah mengirimkan salah seorang hambaMu untuk membantuku mencari ibu. Semoga segalanya dimudahkan. Amiin. Bisiknya di dalam hati.
--@@---
“Permisi pak, saya mau tanya. Adakah seorang wanita yang bernama Fatmawati disini?” tanya bapak tua itu kepada seorang petugas haji ketika mereka sampai  di salah satu penginapan para jama’ah haji asal Indonesia.
“Asalnya darimana pak?”
“Dari Semarang pak.”
“Ooo...Bu Fatmawati yang dari semarang,” Ulang petugas dengan nada terkejut. “Anu pak, ibunya sedang sakit. Sekarang ada di kamarnya. Mari saya antar,” kata sang petugas ramah.
“Selama disini, ibu Fatmawati tidak melakukan apa-apa karena sakit. Beliau hanya berbaring di tempat tidur. Jangankan berjalan, dudukpun beliau sudah tidak sanggup. Entah penyakit apa yang sedang bersarang di tubuhnya. Tim medis pun dibuat kebingungan karena kondisi beliau yang terus menurun. Sudah berbagai macam daya upaya dilakukan, namun penyebabnya sakitnya tidak kunjung ditemukan,” jelas sang petugas seraya mempercepat jalannya penuh semangat.
Sang bapak tua dan gadis itu berjalan dengan tak kalah cepatnya. Hatinya merintih pilu tatkala mengetahui kondisi ibunya. Ia tidak menyangka kejadiannya akan berakhir begini. Benarkah wanita yang dimaksud adalah ibunya? Semoga kali ini ia benar-benar dapat bertemu ibunya.
“Nah, itu dia kamarnya.”
Gadis itu berlari cepat menuju kamar yang dimaksud. Pandangannya tertumbuk pada sebuah dipan sederhana di salah satu sudut kamar. Sesosok wanita separuh baya terbaring lunglai tak berdaya. Pandangan matanya sayu menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Air matanya berlinang tak tertahankan.
“Ibu...” jeritnya seraya berlari memeluk tubuh yang rapuh itu.
“An ... anakku ...” katanya terkejut begitu mengetahui anak yang dirindukannya telah benar-benar nyata hadir dihadapannya. “kamu benar anakku,” katanya tak percaya. Beberapa saat lamanya ibu dan anak itu saling menangis menumpahkan kerinduan yang telah lama dipendam. Ibu
“Subhanallah, ibu itu sudah bisa duduk,” seru salah seorang jama’ah haji. “Padahal tadi ibu itu sudah seperti orang kena stroke.”
“Maaf ibu, saya adalah orang yang mengantarkan anak ibu. Sekarang perasaan ibu bagaimana? Apakah ibu mau menjalankan ibadah haji,” tanya bapak tua itu kepada bu Fatmawati.
“Insya Allah saya mau pak,” jawabnya seraya menyeka air matanya.
“Ibu bisa berdiri?”
“Akan saya coba pak.” Dengan perlahan, Bu Fatmawati berusaha berdiri. Meskipun tertatih-tatih, ternyata ia mampu berjalan mengitari kursi dihadapannya. Tak henti-hentinya kalimah takbir berkumandang memenuhi ruangan. Kuasa Allah memang tidak terbatas. Seorang wanita tua yang terbaring lunglai, dalam sekejap mampu berdiri dengan kedua kakinya tanpa bantuan apapun.
“Alhamdulillah. Nak, nanti tolong dampingi ibumu thawaf ya. Sekarang bapak permisi dulu.”
“Tunggu dulu pak,” seru gadis itu ketika bapak tua akan beranjak pergi. “Pak, terima kasih ya atas bantuannya. Maaf, kalau boleh tau, nama bapak siapa?”
Bapak tua itu hanya tersenyum simpul dan berkata, “Nama saya Sukri. SUKRI PAWIRA.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified