Rabu, 19 Oktober 2011

Hurruzia ku sayang Hurruziaku malang ...

"Mas, kok mukanya cemberut begitu?" tanyaku ketika berpapasan dengan seorang anak bertubuh gempal. Hurruzia namanya. dia hanya menatapku dengan wajah tanpa ekspresi dan berlalu begitu saja. aku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuannya. mungkin ia sekarang sedang kelelahan. begitu pikirku.
setahun kemudian, aku ditugaskan menjadi guru kelas 6. hebatnya, salah satu siswaku adalah ... Hurruzia! Yup! bagus! aku bakalan bertemu dengan anak yang .... kau tau kan? 
"Ustadzah, berat lho kalau mau merubah Hurruzia. waktu dia kelas 1 aja, pak agus pernah diludahi," kata Rafly mencoba memberitahuku. 
"Kita hanya wajib berusaha tetapi tidak wajib berhasil," jawabku.
sore itu kami sedang berbincang-bincang bersama beberapa siswa termasuk hurruzia. 
"Ustadzah, kenapa ya dulu saya meludahi pak agus?" tanyanya polos.
"Wah, ustadzah nggak tau. yang melakukan khan anda? menurut anda kenapa?" tanyaku sambil tersenyum geli. menurutku pertanyannya agak ngaco alias ajaib. bagaimana tidak?! dia yang melakukan tapi malah dia yang bertanya.
"Mas Huruzia, kenapa sih wajah anda selalu cemberut? tanyaku lagi.
"Masak sih!"tanyanya kebingungan. "Memang muka saya begini ustadzah. sudah takdir!" jawabnya cuek.

"Eh tau nggak! waktu aku meludahi pak Agus, aku khan langsung ditaruh di atas lemari sama Pak Agus. Aku diolok-olok sama Rafly. Wee ... nggak bisa turuun... gitu katanya sambil goyang-goyang bokongnya," curhatnya kepada Sulthon. 
"Trus gimana," tanya Sulthon penasaran sambil cengar-cengir.
"Ya.. aku langsung lompat turun. tapi aku naik lagi, gara-gara Rafly bilang mau dilaporkan sama pak Agus." jawabnya berapi-api. mendengar itu, Sulthon langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Sama teman-teman aku disuruh minta maaf sama pak Agus. Ya akhirnya aku minta maaf. habis itu aku langsung diturunkan sama pak Agus. pak agus nggak tau kalau aku bisa turun. mungkin karena badanku gendut kali ya...."

Tak dapat kupungkiri, Hurruzia memberikan warna tersendiri di kelas 6 Mahakam. kadang-kadang ia melucu dengan wajahnya yang elastis seperti Mr Bean (itu julukanku untuknya :-)), tapi seringkali pula ia mencetuskan ide-ide cemerlang dengan gaya konyolnya. walaupun terkadang ia suka keceplosan mengeluarkan sumpah serapah. dibalik keceriaan yang slalu ditampilkannya, sesungguhnya telah lama penyakit asma hinggap ditubuhnya, sehingga tidak heran jika jaket hampir-hampir tidak pernah lepas dari tubuhnya.

Sudah dua hari ia tidak turun sekolah. kabarnya ia terserang penyakit thypus. kupikir, asmanya kambuh lagi. kamipun merasa kehilangan. nggak ada celotehan konyolnya dan nggak ada suara tawanya yang lucu.

Namun, hari ini kami bisa berkumpul lagi. kelas ini kembali ceria. Semangat!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified